Minggu, 29 Maret 2009

MENUMBUHSUBURKAN ETIKA LINGKUNGAN PADA SISWA

Oleh : Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

1. RASIONAL
Di saat negara sedang genjar-genjarnya kampanye legislatif, tiba-tiba kita dikejutkan adanya berita jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Saat itu, hari Sabtu dini hari, 27 Maret 2009 sekitar pukul 03.30 air bah yang mirip tsunami menyapu bersih pemukiman penduduk di pinggiran selatan ibu kota Jakarta. Menurut pantauan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Tangerang Selatan, areal yang terendam air sekitar 10 hektar.Sedang menurut Posko Utama Penanggulangan Bencana Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mencatat korban tewas 63 orang dan 80 orang hilang ( Jawa Pos, 28 Maret 2009).
Sementara itu, menurut harian Kompas, jebolnya tanggul buatan Belanda tahun 1932 ini menghancurkan 300 rumah, korban tewas mencapai 65 orang, 98 orang hilang dan 52 orang cedera, dan 25 orang dirawat di rumah sakit Fatmawati(Kompas, 28 Maret 2009 ). Berdasarkan realita di atas, maka muncullah pertanyaan, mengapa ini semua dapat terjadi ? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu jawabnya beragam.Tergantung dari pola pikir kita masing-masing. Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Pitoyo Subandrio, jebolnya tanggul Situ Gintung karena hujan deras yang turun 5 jam tanpa henti (Jawa Pos, 30 Maret 2009). Sedang menurut seniman seperti Ebiet G. Ade jawabnya mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersabat dengan kita, coba kita bertanya kepada rumput yang bergoyang. Namun, ada satu hal yang dilupakan banyak pihak, bahwa sejak jaman Belanda ada larangan membangun rumah atau bangunan di sekitar waduk Situ Gintung pada radius 1 km2 . Selain itu, hutan di hulu sungai yang biasanya menyimpan air hujan sudah sudah dibabat habis manusia (Jawa Pos, 30 Maret 2009).Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa manusia membangun rumah dan membabat hutan di sekitar waduk Situ Gintung ?Salah satu jawabannya adalah bahwa mereka tidak atau kurang mempunyai etika lingkungan sehingga kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut A.Sonny Keraf (2007), yang dimaksud etika lingkungan adalah filsafat (pandangan) hidup secara damai dengan alam, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme maupun benda-benda mati yang ada di sekitarnya. Artikel ini akan membahas bagaimana menumbuhsuburkan etika lingkungan kepada siswa berdasarkan pengalaman penulis menjadi guru selama 18 tahun di Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia (YPPI), khususnya SMP YPPI – 2 Surabaya.
2. Bentuk Kegiatan
Ada beberapa kegiatan yang dapat digunakan untuk menumbuhsuburkan sikap etika lingkungan, antara lain :
a. GHL ( Gunung, Hutan dan Laut )
Program GHL ini merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti siswa dan guru mulai jenjang TK, SD, SMP, dan SMA yang dilaksanakan setiap tahun sekali, kegiatannya mirip dengan out bound, namun materi dan waktu disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.Kegiatan ini dimulai sejak 1986 sampai sekarang masih berlangsung. Alasan diadakan kegiatan ini disamping menumbuhsuburkan etika lingkungan adalah selama ini siswa kami hidup di kota besar ( Surabaya ) yang segalanya serba konsumtif dan individualistis maka dengan adanya GHL ini mereka diperkenalkan langsung dengan lingkungan alam nyata bukan sekedar teori di kelas yang bersifat verbalistik. Hidup berkelompok dalam satu regu, saling tolong menolong antara satu dengan yang lain.Contoh kegiatan, misalnya paket kegiatan menghitung jumlah populasi makhluk hidup secara simple random sampling di hutan Mahoni (Swetenia mahagoni)
Trawas – Mojokerto (1995), Identifikasi Biota Laut di pantai Tuban (2006), Pendidikan Lingkungan Hidup dan Budaya Jawa di Kaliandra (2007). Disamping itu, juga diisi diskusi, yel-yel, game, jurit malam dan api unggun. Dengan adanya kegiatan di atas diharapkan siswa sejak TK, SD, SMP, dan SMA mulai mengenal alam nyata berupa gunung, hutan dan laut. Hal ini bertujuan agar siswa setelah keluar dari YPPI dan terjun ke masyarakat, mereka telah mempunyai bekal berupa sikap etika lingkungan.
b. Cinta Puspa
Cinta Puspa adalah nama kegiatan di YPPI dimana setiap siswa mulai tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas (Universitas Widya Kartika) wajib mengadakan reproduksi tanaman bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) dan umumnya tanaman hias yang lain dengan stek. Setiap siswa atau mahasiswa wajib membuat stek minimal 10 stek kemudian dipelihara di sekolah (green hause) selama 6 bulan. Oleh sebab itu, peran wali kelas dan Guru Biologi sangat penting dalam mengontrol kondisi tanaman. Setelah 6 bulan, tanaman hias sudah siap akan ditanam, penulis ditunjuk YPPI untuk bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Kota Surabaya untuk menentukan tempat menanam tumbuhan hias. Setelah terjadi kesepakatan, maka tempat penanaman disepanjang jalan raya Kertajaya depan kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) sampai depan BCA dan waktu penanaman hari Jum’at, 30 Maret 2007 serta berkenan membuka secara resmi wali kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono. Dengan siswa membuat stek , merawat kemudian menanam sendiri, maka diharapkan akan tumbuh sikap etika lingkungan bila kelak terjun ke masyarakat.
c. Tugas Lintas Pelajaran
Selain itu, sikap etika lingkungan dapat pula ditumbuhsuburkan melalui tugas lintas pelajaran, misalnya topik tentang Pencemaran dapat tugas dari pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Disamping itu, tugas lintas pelajaran ini membuat siswa bebannya lebih ringan sebab membuat satu tugas sekaligus mendapat 3 atau 4 nilai dari mata pelajaran yang berbeda. Dengan demikian akan menambah motivasi siswa untuk lebih mendalami tentang etika lingkungan sebab bukan hanya pelajaran Biologi saja yang mengajarakan tetapi pelajaran yang lainpun juga demikian.
3. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka bila siswa sejak dini ditumbuhsuburkan sikap etika lingkungan melalui berbagai kegiatan, baik melalui GHL, Cinta Puspa maupun Tugas Lintas Pelajaran, maka diharapkan setelah terjun ke masyarakat nanti tidak ada lagi kasus mendirikan bangunan atau perumahan di sekitar waduk tempat penampungan air dan pembabatan hutan yang berakibat resapan air hujan berkurang, sehingga tidak akan ada lagi tsunami jilit 2 seperti waduk Situ Gintung . Semoga.

Jumat, 20 Februari 2009

NGEBLOG, MENGAJAR TANPA BATAS RUANG DAN WAKTU


“NGEBLOG”, MENGAJAR TAK TERBATAS RUANG, WAKTU DAN TEMPAT

Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

Contextual Teaching and Learning (CTL) is a system instruction based on the philosophy that students learn when they see meaning in academic material and the meaning in schoolwork when they can connect new information with prior knowledge and their own experience. Begitu menurut Elaine B. Johnson (2002).

Mencermati pengertian CTL di atas, maka siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh manakala materi pelajaran yang kita ajarkan benar-benar bermanfaat secara langsung bagi kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu contoh aplikasi metode CTL ini adalah dengan membuat blog di internet sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.Masalah yang muncul kemudian adalah, bagaimana cara membuat blog di internet dan menggunakannya untuk tujuan mengajar? Tulisan ini akan mencoba membahas masalah di atas beserta keuntungan dan kerugiannya.

Untuk dapat membuat blog di internet ada beberapa cara, antara lain, kita bisa masuk melalui www.blogger.com, lalu kita ikuti 3 langkah mudah membuat blog. Kita tinggal mengisi data sampai bog kita jadi.Cara lain, bisa juga lewat blog yang sudah jadi, misalnya masuk ke blog penulis : www.wahanaguru.blogspot.com. Setelah masuk kita bisa lihat pojok kanan atas ada kata “buat blog” tinggal kita klik kemudian mengikuti 3 langkah mudah membuat blog seperti di atas. Cara lain lagi, bisa juga melalui www.wordpress.com dan mengikuti langkah-langkah yang diminta. Setelah blog kita jadi, agar lebih menarik kita dapat memilih warna yang kita suka, mengisi blog kita dengan album foto sekolah, slide dari youtube, jumlah pengunjung, pooling, artikel atau materi pelajaran yang akan kita ajarkan. Bisa juga blog kita “link”kan ke media lain, misalnya Jawa Pos, Diknas Surabaya, Diknas Sidoarjo, Diknas Gresik, Pustakamaya, Wiki Pedia dan sebagainya.

Bila blog kita sudah jadi dan cukup menarik, selanjutnya kita isi dengan materi pelajaran yang akan kita ajarkan. Sebagai contoh bila penulis besuk akan praktikum, maka sebelumnya alat dan bahan , prosedur ( cara kerja) dimasukkan terlebih dahulu ke blog, sedang di kelas kita bisa membagi kelompok atau menjawab pertanyaan siswa. Kemudian sebelum pulang, siswa diberitahu alat dan bahan serta prosedur praktikum silakan diakses di www.wahanaguru.blogspot.com. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, bisa bertanya dengan meng “klik” comment yang terletak di kanan bawah materi pelajaran atau artikel. Selanjutnya tinggal mengetik apa yang ingin ditanyakan lalu membubuhkan email kita lalu “klik” publikasikan, maka pertanyaan tersebut akan muncul di blog kita dan guru dapat menjawab pertanyaan tersebut dimana saja, kapan saja yang penting ada akses internet.

Dengan mengajar menggunakan blog ini mempunyai beberapa keunggulan (kelebihan), antara lain, kita tidak di batasi waktu di sekolah yang hanya 6 – 9 jam per hari saja. Kita juga bisa mengganti materi pelajaran pada malam hari atau pagi hari sebelum pelajaran dimulai atau kapan saja.Demikian pula kita tidak perlu dibatasi mengajar harus diruang kelas, bisa saja gurunya di rumah, di warnet, di cafe, di maal atau bahkan di taman Bungkul sekalipun. Namun demikian, secara jujur penulis mengakui, metode ini ada kelemahannya, yaitu baik guru maupun siswa harus ada akses internet. Bagaimana menurut pendapat anda ? ( artikel ini pernah dimuat Jawa Pos, hari Jum'at, 23 Januari 2009).

Sabtu, 09 Agustus 2008

BELAJAR ENJOY DENGAN PRAKTIKUM



Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

Pada umumnya, siswa bila disuruh belajar Biologi akan menjawab malas, alasannya, sebab biologi adalah pelajaran yang membosankan, banyak catatannya,banyak nama latinnya dan masih banyak alasan lain ( Mahfud,”Tips Belajar Biologi Dengan Mudah”, www.wahanaguru.blogspot.com, 8 Agustus 2008 ).Namun, akan lain ceritanya bila siswa diberitahu bahwa pelajaran biologi yang akan datang adalah praktikum. Terlebih lagi, bila praktikumnya membedah hewan, maka siswa akan antusias dan bersemangat untuk segera melakukannya.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana cara membedah hewan sehingga anak-anak antusias untuk segera melakukannya ?

Pertama-tama, alat dan bahan yang dibutuhkan, antara lain, papan bedah, alat bedah ( dissecting kit ), kapas, tissue, alkohol 70 % atau eter, tas kresek,alat tulis, tustel ( handphone berkamera ), jarum pentul, hewan yang akan dibedah dan siswa sendiri harus memakai kaos tangan karet, masker dan jas praktikum. Alat bedah adalah alat yang digunakan untuk kegiatan pembedahan, seperti untuk membedah hewan, manusia atau untuk pembuatan sediaan botani ( www.wikipedia.org, 8 Agustustus 2008 ). Alat bedah berupa dompet kulit yang berisi : pinset (penjepit), tangkai dan daun pisau bedah, gunting bedah, paku bedah bertangkai dan jarum bedah bertangkai.Sedangkan hewan yang biasa digunakan untuk praktikum pembedahan, antara lain ikan mas (Cyprinus carpio), katak hijau ( Rana pipiens ), burung merpati ( Columba livia ), tikus putih (Rattus rattus ).

Cara melakukannya, pertama-tama hewan dibius dengan alkohol 70 % atau eter dengan penggunakan kapas. Setelah hewan pingsan lalu ditelengtangkan pada
p
apan bedah kemudian pada tangan dan kaki ( ujungnya ) dijarum pentul agar tidak bergeser pada saat dibedah. Selanjutnya, hewan siap dibedah bila hewannya ikan, maka pembedahan dimulai dari penutup insang bagian bawah kemudian dilanjutkan sampai sirip belakang. Pada bagian penutup insang digunting ke arah samping sampai separuh tubuh ikan lalu dibuka dan dijarum pentul. Sedang jika hewannya katak, burung merpati, tikus putih, maka setelah hewan dibius kemudian ditelentangkan dan dijarum pentul kaki dan tangannya kemudian pembedahan dimulai dari dada secara melintang kemudian dibawah leher digunting secara membujur sampai mendekati ekor setelah itu digunting lagi secara melintang dekat ekor. Setelah itu, kulit dibuka dan gambar atau dipotret organ dalamnya.

Akhirnya, bila telah selesai hewan percobaan dimasukkan tas kresek dan alat bedah dicuci bersih dan dikeringkan dan dikembalikan ke petugas laboratorium. Selanjutnya, laporan praktikum dibuat perkelompok dan dikumpulkan minggu depan.

Kamis, 26 Juni 2008

GAME "ECOSYSTEM CYCLE" ARTERNATIF MENGAJAR LINGKUNGAN


Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI -2 Surabaya

Selama ini bila kita mengajar ilmu lingkungan ( ekosistem ) di sekolah biasanya menjelaskan secara verbal di kelas, baik menggunakan papan tulis, white board, OHP (Over Head Projector) maupun power point. Bila fasilitas sekolah kita memadai kadang masih ditambah dengan siswa diajak nonton ekosistem melalui VCD (Video Compact Disc). Jarang sekali penulis lihat, guru mengajarkan ekosistem dengan metode game yang melibatkan siswa secara aktif sehingga siswa semakin senang, memahami pentingnya ekosistem bagi kita semua. Metode ini, penulis beri nama “ Game Ecosystem Cycle “.

Pertama-tama, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok terdiri 6 siswa.Setiap kelompok harus ada yang menjadi produsen (tumbuhan hijau), belalang (konsumen I), katak (konsumen II), ular (konsumen III), elang (konsumen IV) dan destruktor (perusak).Agar setiap siswa ingat perannya, maka disetiap punggung siswa diberi tulisan sesuai dengan statusnya dengan karton yang ditali dengan rafia. Selanjutnya, siswa diajak kelapangan atau tempat yang agak lapang, masing-masing kelompok membentuk lingkaran dengan tali rafia dan setiap anggota ekosistem saling memegang tali rafia kecuali destruktor berada 2 meter di luar lingkaran sambil membawa bola tenis meja atau kertas yang digulung dan dipadatkan.Cara memainkan game ini, setelah terbentuk lingkaran kemudian semua anggota memegang tali rafia kecuali destruktor, maka sambil berjalan berputar dan bernyanyi yang telah disepakati kelompok, maka destruktor siap membidikkan bola tenis meja ke salah satu anggota ekosistem yang sedang berjalan berputar sambil bernyanyi tadi.Bila salah satu anggota kelompok terkena lemparan bola, maka ia harus bisa menyebutkan ganti status yang sedang diperankannya.Sebagai contoh, bila yang kena lemparan adalah belalang, maka ia akan dihitung 1 sampai10.Jika ia bisa menyebutkan gantinya, misalnya ia menyebut ulat, maka konsumen I hidup kembali dan lingkaran ekosistem berjalan seperti sedia kala.Sebaliknya, jika siswa yang memperankan belalang tadi setelah dihitung 1 sampai 10 tidak bisa menyebutkan gantinya, maka ia harus keluar dari lingkaran ekosistem dan bergabung dengan destruktor sehingga makin lama ekosistem tersebut semakin tidak seimbang dan sebaliknya destruktornya makin lama makin kuat.

Dengan menggunakan game “ecosistem cycle” dalam mengajarkan ekosistem kepada siswa mempunyai beberapa keuntungan, antara lain : dapat menghilangkan kejenuhan, sebab di luar kelas (outing class) belajar sambil bernyanyi, siswa mudah mengingat sebab setiap siswa akan berusaha menyiapkan gantinya bila terkena lemparan bola dan yang lebih penting siswa dengan senang hati belajar akan pentingnya ekosistem bagi kita semua sedang bagi guru tugasnya lebih ringan, sebab guru dapat menilai secara individu sekaligus nilai kerjasama (kelompok).Bagaimana menurut pendapat anda ?

Rabu, 28 Mei 2008

TUMBUHANPUN MENGERTI KASIH SAYANG


Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

1. Rasional

Menyimak kisah kematian pohon – pohon di Metropolis (Jawa Pos, 13 Januari 2006), hati penulis sangat trenyuh. Betapa tidak, pohon beringin (Ficus benyamina) yang sudah berumur puluhan tahun dengan diameter batang setara pelukan 2 orang dewasa yang terletak di tengah – tengah Balai Pemuda Surabaya harus mati hanya gara - gara setiap Kamis malam diberi sesajen dan kemenyan yang dibakar.Di tempat lain, tepatnya di kawasan Gayung Kebonsari, di tepi saluran air sebelah timur, ada sebuah pohon waru (Hibiscus tiliaceus) yang cukup tua ditebang karena posisinya miring ke arah jalan. Di seberang pohon waru tersebut terdapat pohon sono (Pterocarpus indicus) yang tinggi menjulang. Pohon sono itu pun mengalami nasib sama dengan pohon waru karena sering dikepras petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya sehingga sekarang tinggal batangnya yang mengering seperti tiang listrik.

Sementara itu, menarik untuk disimak adalah hasil pendataan fungsi pohon di jalan utama Kota Surabaya oleh Klub Tunas Hijau pada Mei 2005. Yakni, sebanyak 1.968 pohon digunakan untuk beriklan, 338 pohon dibakar, 466 pohon ditebang, dan 77 pohon digunakan untuk menaungi warung atau rumah (Jawa Pos, 13 Januari 2006). Berdasarkan hal tersebut, timbul pertanyaan, mengapa pohon-pohon itu harus mati ? Pertanyaan berikutnya, bagaimana seharusnya sikap warga kota terhadap pohon-pohon tersebut ? Tulisan ini akan mencoba mengulas permasalahan itu.

2. Salah Persepsi

Contoh nyata salah persepsi sebagian warga kota terhadap keberadaan pohon adalah matinya pohon beringin di Balai Pemuda tersebut. Fungsi pohon yang seharusnya sebagai paru-paru kota, pelindung saat panas terik, dan khusus pohon beringin di Balai Pemuda itu konon juga digunakan sebagai background dadakan bila ada pentas seni karena memang akar gantungnya mempunyai nilai estetika tersendiri, justru disalahartikan dengan cara diberi sesajen dan kemenyan (Jawa Pos, 13 Januari 2006).

Sementara itu, kisah kematian pohon waru dan sono di kawasan Gayung Kebonsari, menurut penulis, lebih bersifat teknis dalam pengeprasan pohon. Seharusnya, setiap pengeprasan pohon tidak seluruh cabang dan dahan dihabiskan agar proses fotosintesis masih dapat berlangsung. Penulis kurang setuju, karena takut tumbang, puluhan pohon di jalan Kertajaya dikepras habis (Jawa Pos, 15 Januari 2006). Menurut penulis, di setiap pohon harus ada keseimbangan (balance) antara akar, batang, dan daun. Bila itu tidak terpenuhi, pohon tersebut minimal bentuknya jelek dan yang paling fatal bisa mati karena terganggunya proses fotosintesis. Lihatlah pohon-pohon sono yang telah mencapai keseimbangan membentuk “terowongan” pohon di jalan Walikota Mustajab, depan Rumah Sakit Darmo, dan jalan Rungkut Industri. Melewati kawasan tersebut seolah-olah kita melewati terowongan pohon yang indah dan sejuk.

3. Kasih Sayang

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya sikap warga kota terhadap keberadaan pohon-pohon tersebut, ada baiknya kita ikuti penelitian di Amerika Serikat. Ada beberapa ahli yang mengadakan penelitian untuk mendeteksi tumbuhan tertentu dengan menggunakan alat yang mirip multimeter.Apabila seorang penyayang tumbuhan (gardener) mendekat, “emosi” tumbuhan tersebut normal (jarum alat tersebut menunjuk angka nol). Sebaliknya, jika yang mendekat itu adalah orang yang suka usil (suka merusak tumbuhan), “emosi” tumbuhan tersebut naik.Hal itu dapat dilihat dari jarum grafik alat khusus tersebut.

Penelitian serupa juga dilakukan para ahli dari Universitas Claremnot, Perancis. Objek penelitiannya adalah bunga Marigold (Tithonia difersipholia) atau orang Jawa menyebutnya dengan “Kembang Rembulan” yang berwarna kuning keemasan. Pada penelitian tersebut yang dideteksi adalah bagian apical (ujung) tumbuhan tersebut.Pada akhir penelitian tersebut disimpulkan, bahwa tidak hanya manusia dan hewan saja yang mengerti kasih sayang dan daya ingat, namun tumbuhanpun juga demikian (Mahfud,Gema, 1988).

Kitapun sering melihat tumbuhan elite yang selalu dimanja dan disayang oleh pemiliknya.Bahkan, tidak tanggung-tanggung, tumbuhan tersebut mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi yang dapat menikmatinya. Karena itu, oleh pemiliknya tumbuhan tersebut sering dipajang di ruang tamu yang sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri. Tumbuhan yang dimaksud adalah “bonsai” yang sekarang sedang populer di negara kita. Sebetulnya, jika kita mau berfikir logis, tumbuhan itu secara tidak langsung dirugikan haknya untuk tumbuh menjadi tumbuhan normal. Tetapi, tumbuhan tersebut tidak pernah menggugat ke pengadilan, bahkan sebaliknya dengan dikerdilkan, tumbuhan tersebut justru menunjukkan kebolehannya. Mengapa demikian ? Sebab, dalam mengerdilkan tanaman tersebut, manusia tidak gegabah memotong begitu saja, melainkan diperlukan ketrampilan khusus dan ketekunan dengan penuh kasih sayang. Bahkan, untuk mendapatkan bentuk bonsai yang mempunyai nilai seni tinggi, diperlukan kontemplasi (perenungan) yang mendalam (H.J. Larkin, 1984). Dengan demikian, tidak heran bila tumbuhan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Pernahkah anda memikirkan tumbuhan kerdil itu ? Cobalah perhatikan, ia seolah-olah tersenyum manja kepada kita karena disayangi pemiliknya.

Sebetulnya, tumbuhan itu menurut saja, apakah ia dirawat dengan baik atau dirusak, dipaku untuk iklan, atau dibiarkan saja, ia tidak pernah protes. Hanya orang-orang yang mempunyai kepekaan tinggi sajalah yang mengerti “keluhan dan rintihan” tumbuhan. Karena itu, penulis sangat salut dan angkat topi terhadap gebrakan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya yang menggalakan taman-taman kota dan hutan kota dengan menanam pohon mahoni (Swietenia mahagoni) di tepi-tepi jalan.Semoga.( Pernah dimuat Jawa Pos, 22 Januari 2006 )

Kamis, 22 Mei 2008

KEARIFAN LOKAL DALAM MELESTARIKAN SUMBER AIR DAN HUTAN

Oleh : Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI - 2 Surabaya

1. Rasional

Jaman dahulu para petani di pulau Jawa, Bali dan pulau – pulau lain di tanah air, punya cara tersendiri dalam melestarikan sumber air dan hutan. Menurut catatan sejarah.Pulau Jawa dahulu dapat mengekspor beras dan hasil panen lainnya ke negara lain, misalnya Siam, Cempa, Hindustan (Pakistan) dan Tiongkok (RRC). Bahkan, di jaman penjajahan (Belanda dan Jepang), hasil panen pulau Jawa bisa memberi penghidupan negara yang menjajah ( Siegfried Tedja, 2006 : 3 ).

Seiring dengan perkembangan jaman, keadaan di pedesaanpun juga berubah, banyak jenis tanaman dan hewan yang dahulu banyak saat ini telah punah. Bersamaan dengan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna tersebut, banyak tata cara yang baik dalam melestarikan alampun ikut hilang. Berdasarkan hal di atas, maka pada hari Minggu – Rabu, 23 – 26 Juli 2006, Lembaga Lingkungan Hidup “Pring Woeloeng” yang bekerjasama dengan ESP – USAID (Environmental Services Program – United States Agency International Development), menyelenggarakan lokakarya tentang “ Cara Melestarikan Sumber Air dan Hutan “ bertempat di Vanda Gardenia Trawas dan Balai Pendidikan dan Latihan PLN Pandaan yang dilanjutkan dengan peninjauan ke lokasi – lokasi sumber mata air di sekitar gunung Penanggungan, Welirang dan Arjuna, sebab dari ketiga gunung inilah asal muasal sumber air mengalir ke sungai – sungai di Jawa Timur termasuk ke kota metropolis Surabaya ini. Lokakarya ini diikuti dari para tokoh masyarakat, pelajar, pendidik, dan para akademisi dari berbagai universitas serta ada tamu undangan dari Singapura, Australia dan Amerika Serikat.

2. Sumber Mata Air

Berdasarkan hasil peninjauan ke lokasi – lokasi sumber mata air selama 2 hari, terdapat 18 sumber mata air yang tersebar di 6 kecamatan dan 3 Kabupaten yang selengkapnya seperti tampak pada tabel di bawah ini :

TABEL LOKASI SUMBER MATA AIR

NO

NAMA SUMBER

DESA

KEC.

KAB.

01.

Jolotundo

Seloliman

Trawas

Mojokerto

02.

Sumb. Macan

Trawas

Trawas

Mojokerto

03.

Tamiajeng

Tamiajeng

Trawas

Mojokerto

04.

Mbeji

Tamiajeng

Trawas

Mojokerto

05.

Njibru

Mbelik

Trawas

Mojokerto

06.

Kedungudi

Sri Gading

Trawas

Mojokerto

07.

Claket

Claket

Pacet

Mojokerto

08.

Kemendung

Penanggungan

Pacet

Mojokerto

09.

Send. Drajat

Penanggungan

Pacet

Mojokerto

10.

Selotapak

Selotapak

Pacet

Mojokerto

11.

Jaten

Selotapak

Pacet

Mojokerto

12.

Banyubiru

Banyubiru

Ranugrati

Pasuruan

13.

Ranugrati

R. Klindungan

Ranugrati

Pasuruan

14.

Pring Wulung

Karangrejo

Purwodadi

Pasuruan

15.

Mbetro

Wonosonyo

Gempol

Pasuruan

16.

Sumber Tetek

Mbelahan

Gempol

Pasuruan

17.

Ken Dedes

Singosari

Singosari

Malang

18.

Sumber Awan

Toyo Marto

Singosari

Malang

Sumber : Hasil Lokakarya, 23 – 26 Juli 2006

Berdasarkan letak geografisnya, ke 18 sumber mata air di atas terletak di sekitar gunung Penanggungan, Welirang dan Arjuna yang pada umumnya di tepi hutan, dekat pemukiman penduduk dan ada pula yang dekat vila, seperti mata air sumber macan di desa Trawas serta ada pula yang menjadi tempat wisata, seperti sumber mata air Ken Dedes, Banyubiru dan Ranugrati. Dari pengamatan penulis selama mengunjungi lokasi sumber mata air tersebut, memang cukup memprihatinkan, terutama mata air sumber macan di desa Trawas, boleh dikatakan “ hidup segan mati tak mau “. Mengapa ? Sebab menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, di dekat lokasi sumber mata air tersebut didirikan perusahaan air bersih / air minum yang setiap hari diangkut bertanki – tanki air dibawa ke Surabaya. Oleh sebab itu, wajar saja bila musim kemarau tiba desa – desa di bawah yang letaknya agak jauh dari sumber tersebut mengalami kekurangan air.

Sementara itu, sumber mata air yang masih cukup bagus, misalnya mata air Sumber Awan yang terletak di Desa Toyo Marto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Konon , sumber mata air ini dalam kitab Negarakertagama disebut dengan telaga Kasurangganan yang merupakan tempat persinggahan Prabu Hayam Wuruk pada jaman kejayaan kerajaan Majapahit ( Suwardono,2006 : 16 ) Sedang sumber mata air paling jernih adalah sumber air Jolotundo yang terletak di desa Seloliman (Hasil penelitian UNESCO tahun 2001 terjernih nomor 3 di dunia ). Konon, sumber mata air ini merupakan tempat peristirahatan Prabu Airlangga beserta pengikutnya pada saat kerajaan Prabu Dharmawangsa (Dharmadinasti) diserang pasukan dari kerajaanWurawari, yaitu kerajaan bawahan dari Medang Kamulan yang
bersekutu dengan kerajaan Sriwijaya ( Umasih, 2004 : 29 ).

3. KEARIFAN LOKAL

Pada hari Minggu, 3 September 2006 penulis mendapat kesempatan mengunjungi acara “Bersih Desa” dari desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Acara “Bersih Desa” tersebut diawali dengan “khataman,” yaitu membaca kitab suci mulai awal sampai akhir yang dilanjutkan dengan acara “Kurban”, yaitu menyembelih sapi lalu dagingnya dibagi ke seluruh warga desa. Pada sore harinya, acara dilanjutkan dengan “Arak-arakan”, yaitu berjalan bersama-sama seluruh warga desa sambil membawa makanan menuju sumber mata air Claket. Setelah sampai pada sumber mata air, diadakan acara “Selamatan” seluruh warga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya berupa sumber air sehingga dapat memberi penghidupan seluruh warga yang sehari sebelumnya tempat tersebut dibersihkan terlebih dahulu dan ditanami pohon.Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan hiburan, berupa pertunjukkan kesenian tradisional yang disebut “Ludruk”.

Sementara itu, acara serupa juga digelar di tempat lain tepatnya di desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Pada hari Minggu – Senin, 30 – 31 Maret 2006 acara diawali dengan pertunjukan “ Nyai Putut”, yaitu pertunjukan magis semacam jelangkung dengan perantaraan boneka yang terbuat dari keranjang dan perlengkapan lainnya.Keesokan harinya, diadakan acara “Bersih Desa”. Seluruh warga desa berbondong-bondong menuju sumber mata air yang disebut “Sumber Pucung” sambil membawa sesaji berupa “Nasi Tumpeng”. Sesampai di sumber air tersebut, diadakanlah acara “Do’a Keselamatan” bagi seluruh warga desa. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan “Tari Tayub”dan malam harinya diselenggarakan pertunjukkan “Wayang Kulit” semalam suntuk (Kompas, 31 Maret 2006).

4. JENIS TUMBUHAN

Berdasarkan hasil kunjungan ke lokasi-lokasi sumber mata air selama 2 hari (24-25 Juli 2006) penulis mencatat jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar lokasi sumber air adalah sebagai berikut :

TABEL JENIS TUMBUHAN DI SEKITAR SUMBER AIR

NO

NAMA LOKAL

NAMA ILMIAH

MANFAAT

01.

Beringin

Ficus benyamina

Peneduh

02.

Pohon Lo

Ficus glomerata

Peneduh

03.

Pohon Bulu

Ficus annulata

Peneduh

04.

Gondang

Ficus variegate

Peneduh

05.

Lowing

Ficus hispida

Peneduh

06.

Amplas

Ficus ampelas

Penghalus

07.

Pohon Pule

Plumbago capensis

Jamu

08.

Kemado

Alstonia spolaris

Obat gatal

09.

Bendo

Artocarpus elasticus

Bahan bangunan

10.

Nangka

Artocarpus integra

Buah & bangunan

11.

Keluwih

Artocarpus communis

Sayuran

12.

Kemloko

Phyllanthus emblica

Peneduh

13.

Pohon Trawas

Tetranthera trawas

Jamu & bangunan

14.

Pace ( Kemudu )

Morinda citrifolia

Bahan obat

15.

Pandan

Pandanus tectorius

Pewarna alami

16.

Semangka

Citrulus vulgaris

Buah

17.

Klerak

Sapindus rarak

Bahan pembersih

18.

Pisang

Musa paradisiaca

Buah

19.

Talas

Caladium esculenta

Sayuran

20.

Bambu ori

Bambussa javanica

Bahan bangunan

21.

Asoka

Ixora coccinen

Tanaman hias

22.

Rotan

Calamus javensis

Bahan perabotan

23.

Enceng gondok

Eichornia crassipes

Gulma air

24.

Gayam

Inocarpus edulis

Peneduh

25.

Pinus

Pinus merkussii

Bahan kertas

Sumber : Hasil Lokakarya, 23 – 26 Juli 2006

Berdasarkan hasil diskusi dengan peserta lokakarya, jenis-jenis tanaman di atas selain Pinus ( Pinus merkusii ) semua bermanfaat menyimpan air disamping manfaat yang telah disebutkan di atas. Sebab pada umumnya sumber mata air keluar dari akar tanaman yang telah disebutkan diatas.

5. PENUTUP

Dengan mencermati uraian di atas, maka untuk dapat melestarikan sumber mata air dan hutan kita tidak lepas dari upayamelestarikan kearifan lokal penduduk di sekitar sumber mata air dan hutan serta jenis-jenis tumbuhan yang mampu menyimpan air.Sebab sumber mata air ini merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di muka bumi ini.

Jumat, 16 Mei 2008


“ TIPS “ BELAJAR BIOLOGI DENGAN MUDAH


Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

1. RASIONAL

Pada umumnya, para siswa mengangggap pelajaran Biologi hanya “sebelah mata” saja. Mengapa demikian ? Sebab menurut alasan mereka, asal sering dibaca dan mendengarkan guru pada saat menerangkan di kelas, so pasti beres. Kemudian otomatis nilai Biologipun menjadi bagus. Betulkah demikian ? Sesederhana itukah cara belajar Biologi itu ? Untuk menjawab tidak,rasanya bagi siswa yang pandai faktanya memang benar, namun untuk menjawab ya, bagi siswa yang lain yang jumlahnya justru lebih banyak, ternyata hasilnya kurang bagus, kalau tidak mau dikatakan jelek (Mahfud, 2007 : 6). Lalu timbul pertanyaan, bagaimana cara mempelajari Biologi yang dapat diikuti oleh semua siswa dengan mudah ? Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas memang tidak semudah membalik telapak tangan namun diperlukan “cara jitu” untuk dapat belajar Biologi dengan mudah.

2. TIPS BELAJAR BIOLOGI

Untuk dapat belajar Biologi dengan mudah, pertamatama yang harus dilakukan, antara lain adalah :

a. Menumbuhkan Rasa Senang Terhadap Biologi

Cara termudah untuk menumbuhkan rasa senang terhadap Biologi adalah dengan menganggap buku Biologi sebagai buku bacaan yang menyenangkan, misalnya seperti buku cerita Harry Potter atau komik Crayon Sincan, sehingga kemana-mana selalu dibawa dan setiap ada waktu luang dapat dibaca. Disamping itu, untuk menumbuhkan rasa senang terhadap Biologi dapat pula dengan cara mengambil sesuatu yang menarik dari Biologi guna diperkenalkan kepada masyarakat.Misalnya mengambil gambar viruspenyebab penyakit AIDS, yaitu HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) yang diperbesar dan disablonkan pada T-Shirt atau mengadakan penelitian di alam terbuka, praktikum di laboratorium dan sebagainya.

b. Secepat Mungkin Menyelesaikan Kesulitan

Bila kita sudah mulai senang dengan pelajaran Biologi, maka secara otomatis kita ingin mendalami Biologi. Namun tidak jarang pada saat kita membaca buku – buku Biologi tersebut terganggu dengan istilah – istilah yang kita belum mengenal atau pengertian – pengertian yang membingungkan. Jika menemukan hal yang demikian, maka segera saja menanyakan jawabannya kepada bapak dan ibu guru Biologi atau kita dapat mencari jawabannya pada kamus Biologi. Sebab bila kesulitan – kesulitan tersebut dibiarkan sampai berlarut – larut maka motivasi kita dalam belajar Biologi akan menurun. Bila hal ini terjadi, maka kita akan menganggap pelajaran Biologi itu sulit.

c. Membaca Secara Keseluruhan (Tuntas)

Bila saat ini kita akan menghadapi ujian, baik UTS maupun UAS maka segera siapkan buku catatan dan buku paket, lalu mulailah membaca bab – bab yang akan diujikan. Bab – bab yang sudah dibaca diberi tanda sehingga seluruh bab yang diujikan sudah terbaca. Pada tahap ini mungkin kita hanya dapat menyerap isinya antara 60 – 70 % atau mungkin di bawah itu, walaupun pernah diajarkan. Namun hal itu tidak menjadi masalah, sebab kita sudah mengetahui secara keseluruhan materi yang harus kita kuasai.

d. Pendalaman Masing – Masing Bab

Untuk dapat mendalami masing – masing bab dalam Biologi, ternyata tiap – tiap bab mempunyai karakteristik tersendiri cara pendalamannya. Contoh bab yang membahas Genetika (Pewarisan Sifat), pendalaman yang tepat adalah dengan cara sering mengerjakan latihan soal – soal, sebab didalamnya banyak dasar – dasar Matematika yang digunakan.Untuk bab – bab yang menekankan segi hafalan dan banyak menggunakan nama – nama latin, pendalaman yang pas adalah dengan mencoba menuliskan kembali nama – nama latin tersebut secara berulang – ulang sampai benar – benar hafal. Sedang untuk bab – bab yang menekankan proses dan letak, misalnya anatomi dan fisiologi (struktur dan fungsi) tubuh manusia, pendalaman yang paling mudah adalah dengan membuat “main mapping” atau bagan (sketsa) boleh juga gambar yang memudahkan proses dan letak sesuatu bab tersebut. Sebab dengan sekali melihat “main mapping” atau bagan (sketsa) atau juga melihat gambar dapat melebihi seribu kata – kata sebagai penjelasan.

e. Menghubungkan antara Bab Satu dengan Bab yang lain dan dengan disiplin ilmu yang lain

Setelah kita mendalami masing – masing bab, maka selanjutnya menghubungkan antara bab satu dengan bab lain yang saling berkaitan. Sebab ada bab yang menjadi prasyarat bab yang lain.Contohnya, kita akan kesulitan belajar Bioteknologi bila sebelumnya kita belum belajar Genetika (Pewarisan Sifat), Biologi Sel, Kimia,Reproduksi, sebab ilmu –ilmu tersebut mendasari untuk belajar Bioteknologi. Disamping itu, perlu juga dihubungkan dengan disiplin ilmu yang lain, misalnya untuk dapat belajar Evolusi dengan baik, maka kita harus belajar Sejarah, Geologi, danAnthropologi begitu seterusnya sehingga bab yang telah kita pelajari terdahulu tidak mudah lupa. Selain itu juga meyakinkan kita bahwa belajar Biologi mempunyai makna yang sangat luas.

f. Membuat “Jembatan Keledai” dan “Main Mapping”

Otak kita ibarat mesin perekam yang mempunyai “keterbatasan”. Oleh sebab itu, bila terlalu banyak informasi yang masuk, apalagi tidak teratur, maka jika sewaktu – waktu kita ingin “memanggil” akhirnya akan kesulitan. Untuk menghindari hal tersebut, maka informasi yang kita peroleh dari membaca harus kita atur sedemikian rupa sehingga memudahkan kita mengingat. Caranya dapat dengan membuat “jembatan keledai”, contoh untuk mengingat persebaran hewan Indonesia bagian tengah ( garis Alfred Russel Wallacea ), yaitu Komodo, Tapir, Babirusa, dan Anoa dapat dibantu dengan kalimatKota Barua”. Contoh lain, misalnya untuk mengingat tahap – tahap pembelahan sel secara Meiosis khususnya pada tahap Profase I adalah Leptoten, Zygoten, Pakiten, Diploten, dan Diakinesis dapat dibantu dengan kalimat “ Lezy Pak Didik “ begitu dan seterusnya. Cara membuat “jembatan keledai “ ini terserah kita yang penting apa yang harus kita ingat itu dapat segera dimunculkan kembali.

Disamping membuat “jembatan keledai” masih ada lagi cara membuat kita mudah ingat, yaitu dengan cara membuat “main mapping” atau peta pikiran alias peta konsep. Agar dapat membuat “main mapping” dengan baik, pada saat membaca harus dapat membedakan mana yang termasuk bagian inti (ide pokok) dan yang mana bagian pelengkap (fakta pendukung). Bila kita sudah mahir membedakan dua hal tersebut, maka kita akan mudah membuat “main mapping” (peta konsep). Dengan cara kita membuat “main mapping” ini, masalah yang sulit dapat dibuat mudah dan materi yang banyak dapat dibuat menjadi sedikit. Dengan demikian otak kita menjadi lebih mudah mengingat.

3. PENUTUP

Tips belajar Biologi di atas baru bermanfaat manakala kita laksanakan dengan kesungguhan hati disertai niat dan motivasi tinggi, penuh konsentrasi, dilakukan secara teratur (kontinyu) dan harus sering diulang. Jika cara – cara di atas kita laksanakan sebaik – baiknya , maka kita akan tercengang melihat hasilnya. Selamat mencoba dan semoga berhasil. (mahfudyppi@yahoo.com).