Humas YPPI Festival
ADALAH TEMPAT MENUANGKAN IDE-IDE MAHFUD DAN SISWANYA ATAU SIAPA SAJA YANG TERTARIK MASALAH PENDIDIKAN, SAINS, LINGKUNGAN HIDUP, AGAMA, MAUPUN SOSIAL KEMASYARAKATAN DENGAN INTERAKSI BERBASIS MAYA (e-interaction) DAN TRANSAKSI BERBASIS MAYA (e-transaction).
Senin, 04 April 2011
YPPI FESTIVAL AJANG KREATIVITAS SISWA
Humas YPPI Festival
Jumat, 16 Juli 2010
GEMA KONFERENSI INTERNASIONAL TENTANG LINGKUNGAN HIDUP 2010

Oleh : MAHFUD
Salah satu peserta CEI 2010 dari YPPI
1. Rasional
Sebagai negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbanyak ke-2 setelah Brasil,Indonesia mempunyai peranan sangat penting dalam menangani issu pemanasan global ( global warming ). Begitu pentingnya keanekaragaman hayati ini, sampai-sampai PBB telah menetapkan bahwa 2010 sebagai Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional. Disamping itu, karena keanekaragaman hayati ini berhubungan erat dengan budaya, maka tema konferensi kali ini adalah : Keanekaragaman Hayati dan Budaya ( Biodiversity and Culture ). Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan adat istiadat. Oleh sebab itu, saat ini Indonesia mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Tentang Lingkungan Hidup ke – 24 ( The 24th Caretakers of the Environment International Conference ) yang diselenggarakan mulai tanggal 4 – 10 Juli 2010
2. Peserta
Jumlah seluruh peserta konferensi sebanyak 220 orang yang berasal dari 18 negara, yaitu :
3. Project
Setiap sekolah atau lembaga yang menjadi peserta konferensi wajib menampilkan minimal 1 project. Project tersebut ditampilkan dalam 2 bentuk, yaitu dalam bentuk dipresentasikan oleh siswa dan yang kedua dalam bentuk dipamerkan dalam papan project yang ditempel pada kertas manila atau sudah dibuat dalam bentuk banner. Boleh juga hasil karya siswa seperti tas dari hasil daur ulang bungkus makanan ringan (snack), T-Shirt yang disablon dengan slogan-slogan peringatan tentang pentingnya kelestarian alam atau hasil karya siswa berupa minuman herbal berupa ekstrak jahe, kencur dan kunyit yang dibagi-bagi kepada setiap pengunjung seperti yang dilakukan oleh peserta dari sekolah YPPI. Sementara itu, dari seluruh peserta yang ada terdapat 46 project, yang terbagi menjadi 5 lokasi presentasi dan dipandu 2 moderator dari negara yang berbeda. Setiap judul project yang membahas topik sama digabung dan masing-masing diberi waktu 15 menit untuk presentasi. Misalnya sekolah YPPI mempunyai 2 project, yang satu berjudul : “My Future Garden” karena topiknya sama dengan sekolah Kirov Rusia yang berjudul : “Parks of Our Town”, maka presentasinya bersama-sama dengan sekolah Kirov Rusia. Demikian pula project kedua dari sekolah YPPI yang berjudul : “My Spring Water” karena topiknya senada dengan delegasi dari Papua yang berjudul : “Danau Sentani”, maka presentasinya juga tampil bersama.
4. Field Trip
Pada hari ke 3 dan ke 4, Selasa dan Rabu, 6 – 7 Juli 2010, setiap peserta diminta untuk memilih salah satu dari 5 macam tipe ekosistem sebagai tujuan field Trip (di YPPI semacam Study Ekskursi). Kelima ekosistem tersebut adalah : 1. Ekosistem Hutan Hujan Tropis di Cangar 2. Ekosistem Vulkanik di gunung Bromo, 3. Ekosistem Hutan Bakau di Probolinggo, 4. Ekosistem Dataran Tinggi di Trawas, dan 5. Ekosistem Sawah di Tumpang. Peserta dari YPPI terbagi menjadi 2 kelompok, sebagian ikut ke ekosistem Hutan Hujan Tropis di Cangar dan sebagian ikut ekosistem Vulkanik di gunung Bromo. Penulis sendiri ikut ke ekosistem Hutan Hujan Tropis di Cangar. Sebelum peserta menuju ke Cangar, terlebih dahulu diterima Wali kota Batu untuk mempromosikan kota Batu kepada peserta yang memang mayoritas berasal dari manca negara. Setelah itu peserta menuju ke Hutan Hujan Tropis di Cangar. Di dalam hutan yang masih alami ini peserta dapat mempelajari berbagai macam keanekaragaman hayati, seperti macam-macam tumbuhan paku yang menempel pada pohon, anggrek, lumut, lumut kerak (Lichenes), rotan, pandan, berbagai jenis pohon,serta berbagai hewan, seperti kera, kupu-kupu, siput, serta bermacam-macam jenis burung. Bahkan menurut hasil penelitian dari P – WEC (Petungsewu Wildlife Education Center, 2010 : 7 ), menyebutkan bahwa jenis-jenis burung yang ada di hutan Cangar tercatat sebanyak 86 spesies, termasuk Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Begitu asyiknya para peserta menyusuri jalan setapak di hutan Cangar, bahkan makan siang dan berfoto bersama juga di hutan.
5. Local Wisdom
Disetiap acara field trip, selalu ada acara mengunjungi ke desa, seperti yang penulis alami berkunjung ke desa Sumberbendo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, , kira-kira 1 km dari tempat penulis menginap di P – WEC, para peserta disuguhi dengan kesenian tradisional, misalnya lagu dolanan dari anak-anak yang memakai mahkota dari berbagai daun, kesenian jaranan, pencak silat, sedekah bumi dan masih banyak lagi. Sepintas lalu memang tidak ada hubungan antara kesenian tradisional dengan keanekaragaman hayati, namun bila kita kaji lebih jauh ternyata terdapat korelasi (hubungan) diantara keduanya. Misalnya lagu-lagu dolanan sambil memakai mahkota dari macam-macam daun, berarti masyarakat tersebut harus menanam pohon yang menghasilkan daun untuk membuat bahan mahkota. Kesenian Jaranan menggunakan jaranan yang terbuat dari bambu dan bulunya dari ijuk serta cambuk (cemeti) dari rotan, berarti masyarakat tersebut harus menanam bambu, siwalan dan rotan agar kesenian jaranan dapat hidup terus. Pada kesenian Pencak Silat, salah satu adegannya punggung dipukul batang salak yang penuh duri tidak berdarah (kebal), berarti masyarakat disitu harus menanam salak. Demikian pula acara sedekah bumi yang menggelar selamatan di sumber air (punden). Menurut Suryo W. Prawiroatmodjo (2010 : 32), upacara selamatan Jawa yang lengkap, meliputi : Nasi yang paling utama dalam bentuk tumpeng (gunungan), padi yang masih dalam untaiannya, gabah, beras, nasi dalam takir, bubur, karak / rengginang, kelapa, pala pendem, seperti : singkong, ubi jalar, bentul, ganyong, garut dan lain-lain, pala kesimpar, seperti : semangka, labu, blewah dan sebagainya, pala gumandul, seperti : jambu, jeruk, mangga, rambutan dan masih banyak lagi, macam-macam sayuran, empon-empon, seperti : jahe, kunyit, kencur, temulawak dan sebagainya, bunga tiga warna (kembang setaman), air bersih (toya Amerta) dalam kendi dan padupan (perapen). Dengan masih tetap mempertahankan kearifan lokal (local wisdom), seperti kesenian lagu dolanan, jaranan, pencak silat, sedekah bumi, maka mau tidak mau masyarakat setempat akan tetap menanam tanaman yang dibutuhkan agar kesenian tradisionalnya tidak punah. Dengan demikian maka keanekaragaman hayati akan tetap terjaga.
6. Harapan
Berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti CEI 2010, maka untuk CEI 2011 yang akan diselenggarakan di Hongaria, maka agar peserta dari YPPI mulai saat ini harus mempersiapkan diri mulai project yang akan dipresentasikan maupun project yang akan dipamerkan. Demikian pula kesenian yang akan ditampilkan bisa mewakili bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Surabaya khususnya, termasuk pakaian pendukungnya dan faktor bahasa tentunya. Sebab pada hari Jum’at, 9 Juli 2010 pada sesi Kesimpulan dan Rekomendasi (Conclusion and Recommendations), salah satu peserta dari YPPI, yaitu Evelyn Marsarin terpilih secara aklamasi untuk mewakili berbagai negara untuk presentasi tentang Ekosistem Hutan Hujan Tropis. Ini tentu prestasi yang luar biasa mengingat sekolah YPPI baru pertama kali mengikuti CEI ini. Dengan demikian YPPI ke depan dapat lebih berkiprah ke tingkat global. Semoga.
Selasa, 18 Mei 2010
"ROBOT PEROKOK" MEMBERI EFEK JERA BAGI SISWA YANG SUKA MEROKOK
Salah satu alternatif untuk menjawab pertanyaan di atas adalah dengan cara membuat “Robot Perokok”. Mengapa ? Sebab robot ini mempunyai beberapa keunggulan antara lain : siswa akan mengetahui secara langsung akibat orang merokok dan mendiskusikannya dengan teman-temannya, mengetahui kandungan zat kimia dalam sebatang rokok, memanfaatkan barang bekas yang tidak berguna untuk kegiatan yang lebih bermanfaat dan masih banyak lagi. Alat dan bahan untuk membuat robot ini antara lain, botol air mineral 1,5 liter, selang dengan diameter ukuran rokok 5 cm, plastisin (malam mainan), obeng plus, lilin, korek api, tas kresek, 2 kayu penyangga,rokok,air,bak plastik(ember),kapas,dangunting/kater.Cara membuatnya, pertama-tama tutup botol dilubangi dengan obeng plus yang dipanaskan pada lilin yang menyala, setelah itu diisi selang lalu sela-sela antara selang dan tutup botol diisi plastisin agar tidak ada kebocoran udara, selang bagian atas diisi rokok dan selang bagian bawah diisi kapas sebagai pengganti paru-paru. Selanjutnya bagian bawah botol juga dilubangi lalu ditutup dengan tas kresek dan diisi air sampai tigaperempat volume botol. Setelah semuanya siap botol yang telah berisi air diletakkan di atas bak plastik (ember) yang diberi 2 kayu penyangga lalu ditutup dengan penutupnya yang sudah ada rokok dan kapas. Setelah itu, rokok dinyalakan dan tas kresek penutup bagian bawah botol ditarik maka robot mulai “merokok”(Foto di atas).
Setelah kurang lebih 5 menit rokok akan habis dan air dalam botolpun juga ikut habis, kemudian tutup botol dibuka dan kapas dalam selang pelan-pelan dikeluarkan maka akan tampak kapas yang semula putih bersih menjadi kuning kecoklat-coklatan . Kandungan nikotin dalam sebatang rokok berkisar antara 0,6 – 2,4 mg. Disamping itu, asap rokok juga mengandung : arsenik, aseton, butan, karbonmonoksida dan sianida ( www.artikelasik.com, 8 Mei 2010).Dengan mengetahui kandungan zat kimia yang terdapat dalam sebatang rokok, maka akan tertanam dalam benak siswa bahwa kalau satu batang rokok saja kandungan zat kimia seperti itu apa lagi bila satu pak (bungkus) atau lebih, tentu tubuh kita akan menjadi sarang berbagai macam penyakit. Oleh sebab itu, bersamaan dengan Hari Anti Rokok Sedunia tanggal 31 Mei 2010 mari kita berhenti dari merokok, kita jauhkan rokok dari keluarga kita. Bagaimana menurut anda ?
Rabu, 18 November 2009
SISWA RAFFLES SINGAPORE MENJADI TAMU SMP YPPI - 2 SURABAYA
Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya
Sebanyak 27 siswa dan 2 guru dari Raffles Institutions Singapore menjadi tamu SMP YPPI – 2 Surabaya sejak 11 – 23 Nopember 2009 dalam rangka “ Pertukaran Pelajar “ ( Student Exchange ) yang saat ini merupakan tahun ke 3 dari program ini. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempelajari perbedaan budaya, cara belajar, lingkungan hidup, sejarah , bahasa dan masih banyak yang lain. Oleh sebab itu, selama di SMP YPPI – 2 Surabaya mereka bila pagi ikut pelajaran di kelas atau kunjungan ke suatu tempat ( outing class ) setelah itu mereka pulang ke rumah anak SMP YPPI – 2 yang bulan Pebruari 2010 akan menjadi tamu di Raffles Institutions Singapore. Dengan demikian mereka akan mengetahui secara langsung keadaan keluarga di Indonesia, khususnya siswa SMP YPPI – 2 Surabaya. Selain itu, mereka juga belajar banyak tentang keadaan Surabaya dan sekitarnya baik keramahan penduduknya maupun tempat-tempat wisata serta peninggalan sejarah kota pahlawan ini.
2. Host Parents
Host parents adalah sebutan untuk anak SMP YPPI – 2 Surabaya yang rumahnya ditempati siswa atau guru dari Raffles. Mereka ini nantinya yang akan mewakili SMP YPPI – 2 Surabaya untuk mengadakan kunjungan balasan ke Raffles Institutions Singapore pada bulan Pebruari 2010 . Jumlah host parents ini sama dengan jumlah siswa dan guru yang datang ke SMP YPPI – 2 Surabaya. Untuk tahun ini, siswa atau guru Raffles dan host parentsnya adalah sebagai berikut : Izhar bin Jumadi di rumah Alvin Cornelius (IX-C), Mohamad Farhan bin Khalid di rumah Enrico Armando (VIII-D), Mr. Paul (Teacher) di rumah Lusiani (VIII-B), Mohammad Hafeez bin Khalid di rumah Joana Marvelin (VIII-C), Mohamad Hakiim bin Mohamad Razali di rumah Jessica Pratiwi (VIII-B), Muhammad bin Mohamed Mustafa di rumah Timothy Brian (VIII-B), Muhammad Fadhli bin Mohamad Ikbal di rumah Sylvia Yuanita (IX-B), Muhammad Firdaus bin Sulaiman di rumah Ivone Halim (IX-C), Ong Cheng Yuen di rumah Ardeliah Tjiptawan (IX-A), Amir Irsyad Khan bin Abdul Hamid Khan di rumah Gibbor Theofilus (IX-D), Muhammad Azhar bin Haj Mohamed di rumah Meiliana Wikarsa (IX-A), Muhammad Idris bin Abrahim di rumah Stefani Wong (IX-A), Abdul Muhaimin bin Abdul Rahman di rumah Evelin Suwandi (VIII-D), Mohamed Danish Fawaz bin Rahmat
di rumah Vivien Vinchu (IX-A), Muhammad Danial bin Rosli di rumah Hardianto Rumui (IX-B), Dehn See Toh Wei Jie di rumah Gladys Gracia Sabandar (VIII-D), Haziq bin Zakariah di rumah Febryna Dayanti (IX-D), Muhamad Izzad Afiq bin Othman di rumah Alita Prameswari (IX-D), Muhammad Nur Aliff bin Kamaruddin di rumah Anthony (VIII-D), Ng Yong Zhe Nigel di rumah Evelin Suwandi (VIII-D), Ong Chuan Kai di rumah Lusiani (VIII-B), Neo Gao Ming di rumah Calvin Sebastian (VIII-C), Mr. Koh Siak Peng (Teacher) di rumah Stefani Wong (IX-A), Muhammad Alif bin Jamal di rumah Thereia Ciuwangi (IX-D), Muhammad Amzar bin Shafarudin di rumah Theresia Henki Tasman (IX-A), Bhargav Sri Ganesh di rumah A.A.N. Dianta Esa (VIII-A), Mohamad Fitri bin Mohamad Rashed di rumah Kevin Tantri (IX-C), Hairul Siddeeq bin Mohamed Ansar di rumah Cindy Natalia (IX-C), dan Chew Shai Jie di rumah Christina Halim (IX-B).
3. AKTIFITAS
Mulai 11 Nopember 2009 pukul 18.00 mereka dijemput di Bandara Juanda sampai di SMP YPPI – 2 Surabaya pukul 19.30 dilanjutkan acara seremonial dan perkenalan dengan host parents hingga berakhir pukul 21.00. Esoknya, hari Kamis, 12 Nopember 2009 acaranya pengenalan program selama di SMP YPPI – 2 serta Surabaya dan sekitarnya., Observasi Sekolah, belajar Karawitan dan Kulintang serta Tari modern. Pada hari Jum’at, 13 Nopember 2009 setelah siswa Raffles di beri pengarahan oleh Mr. Paul, selanjutnya ke Taman Flora untuk menanam melati Jepang yang saat itu banyak diliput media massa, antara lain, Jawa Pos, Surya, Suara Surabaya.net, Duta dan Bisnis Chanel TV (BCTV). Selanjutnya ke Kebun Binatang Surabaya (KBS), dan Masjid Chengho. Di masjid Chengho ini sebagian siswa Raffles ada yang sholat dan Mr. Paul tidak henti-hentinya memotret masjid yang arsitekturnya mirip dengan kelenteng. Kegiatan hari itu di akhiri dengan belanja souvenir dan batik di toko Mirota. Hari Sabtu, 14 Nopember 2009, bersama dengan siswa kelas VIII SMP YPPI – 2, mereka ikut study ekskursi ke gua Akbar di Tuban kemudian dilanjutkan ke gua Maharani dan Wahana Bahari Lamongan (WBL) di Lamongan.Pada hari Senin, 16 Nopember 2009, mereka belajar bersama dengan SD Santa Melania yang disebut “One Day Learning”, setelah itu mereka menikmati indahnya jembatan Suramadu yang menghubungkan antara kota Surabaya dengan pulau Madura. Acara hari itu diakhiri dengan kunjungan ke pantai Kenjeran Surabaya sambil berlayar ke pulau pasir. Tanggal 17 – 19 Nopember 2009, mereka mengikuti kegiatan Gunung Hutan dan Laut (GHL), yaitu semacam kegiatan outbond bersama siswa kelas IX SMP YPPI – 2 Surabaya ke Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di desa Seloliman, Kecamatan Trawas ,Kabupaten Mojokerto. Di PPLH ini siswa Raffles banyak belajar tentang kehidupan masyarakat desa, Teknologi Tepat Lingkungan (TTL), Daur ulang limbah, hutan tropis dan napak tilas patirtan Prabu Airlangga dan tentunya menikmati sejuknya udara pegunungan serta segarnya mandi air sumber dari pegunungan.Pada hari Jum’at, 20 Nopember 2009 siswa Raffles akan belajar bersama dengan SD YPPI – 1 Surabaya yang juga disebut “ One Day Learning “ dan selanjutnya mereka akan membuat persiapan presentasi yang akan digelar hari Senin, 23 Nopember 2009 tentang materi apa saja yang telah mereka pelajari selama berada di Surabaya dan sekitarnya. Hari Sabtu, 21 Nopember 2009, mereka akan melihat secara langsung ke lokasi Lumpur Lapindo dan Museum Mpu Tantular di Sidoarjo serta menikmati lezatnya ikan bakar di rumah makan “Joyo”.Hari terakhir, Senin, 23 Nopember 2009 adalah hari yang ditunggu-tunggu para wartawan, sebab siswa Raffles akan presentasi tentang hasil yang diperoleh selama di Surabaya dan sekitarnya dan penampilan seni bersama antara siswa Raffles dengan siswa SMP YPPI – 2 Surabaya dan acara diakhiri foto bersama selanjutnya terus menuju ke bandara Juanda untuk kembali ke Singapora.
4. HARAPAN
Dengan adanya kegiatan Student Exchange ini diharapkan ke depan tidak ada lagi kendala masalah budaya, bahasa, makanan dan lain-lain sehingga masing-masing sekolah, kota bahkan negara dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kegiatan ini sebagai wahana promosi baik proses belajar mengajar, etos belajar, disiplin maupun pariwisata masing-masing negara. Semoga.
Sabtu, 08 Agustus 2009
ADA APA DENGAN FLU BABI ?
Oleh : Drs. Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI – 2
Luar biasa ! Ungkapan itu tepat untuk menggambar penyakit yang saat ini menjadi momok yang menghantui setiap manusia. Penyakit itu adalah flu babi atau dalam bahasa Inggris disebut swine flu, bahkan ada pula yang menyebut flu Mexico sebab penderita paling banyak berasal dari negara tersebut.Betapa tidak, dari bulan April sampai Juli 2009 harian Kompas memberitakan flu babi lebih dari 10 kali, sedang Jawa Pos selama 4 hari berturut-turut mulai 28 – 31 Juli 2009 membuat kolom khusus tentang flu babi ini. Andaikan tidak ada pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2009 dan meninggalnya seniman “nyentrik”mbah Surip 4 Agustus 2009 yang disusul 2 hari kemudian penyair dan budayawan kondang “Si Burung Merak” WS Rendra serta 2 hari berikutnya tewasnya gembong teroris Nurdin M Top,mungkin berita tentang flu babi ini pasti lebih gencar lagi.
Selasa, 28 April 2009
PENCEMARAN LINGKUNGAN

Oleh : Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya
Pencemaran (polusi) adalah proses masuknya polutan ke dalam suatu lingkungan sehingga menurunkan mutu lingkungan. Sedang yang dimaksud lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik berupa faktor abiotik (benda mati) maupun faktor biotik (makhluk hidup).Sementara itu, yang dimaksud polutan adalah bahan pencemar lingkungan, dapat berupa bahan kimia, debu, panas, suara, radiasi, dan mikroorganisme.Suatu zat dikategorikan polutan (bahan pencemar) apabila kadarnya melebihi batas kewajaran serta berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat.
Berdasarkan sifat polutannya, pencemaran dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu : 1. Pencemaran Kimiawi, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat-zat kimia.2. Pencemaran Fisikawi, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat cair, zat padat, dan gas. 3. Pencemaran Biologis, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh mikroorganisme.
Sementara itu, berdasarkan tempatnya, pencemaran dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :
air, udara, tanah dan udara. Beberapa istilah dalam pencemaran adalah :
1. Penyakit Minamata adalah penyakit akibat penimbunan logam berat merkuri (raksa).
2. Eutrofikasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat dari gulma air akibat kelebihan sisa
pupuk yang terbawa air.
3. DDT (Dikloro Diphenyl Trikloroetana) adalah salah satu jenis insektisida yang sangat
Berbahaya karena tidak dapat terurai di alam.
4. Efek Rumah Kaca ( Green House Effect ) adalah meningkatnya kadar CO2 di
atmosfer akibat asap dari cerobong baprik dan kendaraan bermotor yang menghalangi
pantulan panas dari bumi sehingga bumi makin lama makin panas.
5. Hujan asam adalah hujan yang bercampur dengan oksida nitrogen (NO2 dan NO3)
dan oksida belerang (SO2 dan SO3).
A. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat !
1. Tuliskan dengan singkat pengertian dari pencemaran (polusi) !
2. Jelaskan pengertian dari lingkungan !
3. Apa yang dimaksud dengan polutan ?
4. Sebutkan kriteria suatu zat disebut sebagai bahan pencemar (polutan) !
5. Sebutkan macam pencemaran berdasarkan sifat polutannya !
6. Sebutkan pula macam pencemaran berdasarkan tempat terjadinya pencemaran !
7. Bagaimana penyakit Minamata bisa terjadi pada manusia ? Jelaskan !
8. Jelaskan bagaimana peristiwa eutrofikasi bisa terjadi !
9. Mengapa kita tidak diperbolehkan menggunakan gas CFC ? Jelaskan !
10. Jelaskan dengan singkat proses terjadinya hujan asam !
B. Tugas Kelompok :
Buatlah kliping secara kelompok yang terdiri dari 5 siswa tentang pencemaran
lingkungan. Pilihlah salah satu pencemaran boleh pencemaran air, tanah, udara
maupun suara minimal 5 halaman. Materi bisa diambil dari koran, majalah maupun
internet !
Minggu, 29 Maret 2009
MENUMBUHSUBURKAN ETIKA LINGKUNGAN PADA SISWA
1. RASIONAL
Di saat negara sedang genjar-genjarnya kampanye legislatif, tiba-tiba kita dikejutkan adanya berita jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Saat itu, hari Sabtu dini hari, 27 Maret 2009 sekitar pukul 03.30 air bah yang mirip tsunami menyapu bersih pemukiman penduduk di pinggiran selatan ibu kota Jakarta. Menurut pantauan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Tangerang Selatan, areal yang terendam air sekitar 10 hektar.Sedang menurut Posko Utama Penanggulangan Bencana Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mencatat korban tewas 63 orang dan 80 orang hilang ( Jawa Pos, 28 Maret 2009).
Sementara itu, menurut harian Kompas, jebolnya tanggul buatan Belanda tahun 1932 ini menghancurkan 300 rumah, korban tewas mencapai 65 orang, 98 orang hilang dan 52 orang cedera, dan 25 orang dirawat di rumah sakit Fatmawati(Kompas, 28 Maret 2009 ). Berdasarkan realita di atas, maka muncullah pertanyaan, mengapa ini semua dapat terjadi ? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu jawabnya beragam.Tergantung dari pola pikir kita masing-masing. Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Pitoyo Subandrio, jebolnya tanggul Situ Gintung karena hujan deras yang turun 5 jam tanpa henti (Jawa Pos, 30 Maret 2009). Sedang menurut seniman seperti Ebiet G. Ade jawabnya mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersabat dengan kita, coba kita bertanya kepada rumput yang bergoyang. Namun, ada satu hal yang dilupakan banyak pihak, bahwa sejak jaman Belanda ada larangan membangun rumah atau bangunan di sekitar waduk Situ Gintung pada radius 1 km2 . Selain itu, hutan di hulu sungai yang biasanya menyimpan air hujan sudah sudah dibabat habis manusia (Jawa Pos, 30 Maret 2009).Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa manusia membangun rumah dan membabat hutan di sekitar waduk Situ Gintung ?Salah satu jawabannya adalah bahwa mereka tidak atau kurang mempunyai etika lingkungan sehingga kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut A.Sonny Keraf (2007), yang dimaksud etika lingkungan adalah filsafat (pandangan) hidup secara damai dengan alam, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme maupun benda-benda mati yang ada di sekitarnya. Artikel ini akan membahas bagaimana menumbuhsuburkan etika lingkungan kepada siswa berdasarkan pengalaman penulis menjadi guru selama 18 tahun di Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia (YPPI), khususnya SMP YPPI – 2 Surabaya.
2. Bentuk Kegiatan
Ada beberapa kegiatan yang dapat digunakan untuk menumbuhsuburkan sikap etika lingkungan, antara lain :
a. GHL ( Gunung, Hutan dan Laut )
Program GHL ini merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti siswa dan guru mulai jenjang TK, SD, SMP, dan SMA yang dilaksanakan setiap tahun sekali, kegiatannya mirip dengan out bound, namun materi dan waktu disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.Kegiatan ini dimulai sejak 1986 sampai sekarang masih berlangsung. Alasan diadakan kegiatan ini disamping menumbuhsuburkan etika lingkungan adalah selama ini siswa kami hidup di kota besar ( Surabaya ) yang segalanya serba konsumtif dan individualistis maka dengan adanya GHL ini mereka diperkenalkan langsung dengan lingkungan alam nyata bukan sekedar teori di kelas yang bersifat verbalistik. Hidup berkelompok dalam satu regu, saling tolong menolong antara satu dengan yang lain.Contoh kegiatan, misalnya paket kegiatan menghitung jumlah populasi makhluk hidup secara simple random sampling di hutan Mahoni (Swetenia mahagoni)
Trawas – Mojokerto (1995), Identifikasi Biota Laut di pantai Tuban (2006), Pendidikan Lingkungan Hidup dan Budaya Jawa di Kaliandra (2007). Disamping itu, juga diisi diskusi, yel-yel, game, jurit malam dan api unggun. Dengan adanya kegiatan di atas diharapkan siswa sejak TK, SD, SMP, dan SMA mulai mengenal alam nyata berupa gunung, hutan dan laut. Hal ini bertujuan agar siswa setelah keluar dari YPPI dan terjun ke masyarakat, mereka telah mempunyai bekal berupa sikap etika lingkungan.
b. Cinta Puspa
Cinta Puspa adalah nama kegiatan di YPPI dimana setiap siswa mulai tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas (Universitas Widya Kartika) wajib mengadakan reproduksi tanaman bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) dan umumnya tanaman hias yang lain dengan stek. Setiap siswa atau mahasiswa wajib membuat stek minimal 10 stek kemudian dipelihara di sekolah (green hause) selama 6 bulan. Oleh sebab itu, peran wali kelas dan Guru Biologi sangat penting dalam mengontrol kondisi tanaman. Setelah 6 bulan, tanaman hias sudah siap akan ditanam, penulis ditunjuk YPPI untuk bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Kota Surabaya untuk menentukan tempat menanam tumbuhan hias. Setelah terjadi kesepakatan, maka tempat penanaman disepanjang jalan raya Kertajaya depan kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) sampai depan BCA dan waktu penanaman hari Jum’at, 30 Maret 2007 serta berkenan membuka secara resmi wali kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono. Dengan siswa membuat stek , merawat kemudian menanam sendiri, maka diharapkan akan tumbuh sikap etika lingkungan bila kelak terjun ke masyarakat.
c. Tugas Lintas Pelajaran
Selain itu, sikap etika lingkungan dapat pula ditumbuhsuburkan melalui tugas lintas pelajaran, misalnya topik tentang Pencemaran dapat tugas dari pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Disamping itu, tugas lintas pelajaran ini membuat siswa bebannya lebih ringan sebab membuat satu tugas sekaligus mendapat 3 atau 4 nilai dari mata pelajaran yang berbeda. Dengan demikian akan menambah motivasi siswa untuk lebih mendalami tentang etika lingkungan sebab bukan hanya pelajaran Biologi saja yang mengajarakan tetapi pelajaran yang lainpun juga demikian.
3. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka bila siswa sejak dini ditumbuhsuburkan sikap etika lingkungan melalui berbagai kegiatan, baik melalui GHL, Cinta Puspa maupun Tugas Lintas Pelajaran, maka diharapkan setelah terjun ke masyarakat nanti tidak ada lagi kasus mendirikan bangunan atau perumahan di sekitar waduk tempat penampungan air dan pembabatan hutan yang berakibat resapan air hujan berkurang, sehingga tidak akan ada lagi tsunami jilit 2 seperti waduk Situ Gintung . Semoga.