Selasa, 03 Januari 2012

MENGAPA MAYORITAS IKAN DI SUNGAI BRANTAS BERJENIS KELAMIN BETINA ?



Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

1. Rasional

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) yang bekerjasama dengan Perum Jasa Tirta I Jawa Timur pada bulan Juli – Agustus 2011, ditemukan bahwa sebagian besar ikan di sungai Brantas, termasuk anak sungainya,yaitu sungai Mas (Surabaya) dan sungai Porong (Sidoarjo) berjenis kelamin betina (Kompas, 24 Oktober 2011). Sebagai contoh, sungai Surabaya di wilayah Karangpilang, dari 44 ekor ikan yang terjaring, ternyata 37 ekor (84 %) berjenis kelamin betina, sedang di wilayah Gunungsari, dari 64 ekor ikan yang tertangkap, ternyata 42 ekor (66 %) ikan berjenis kelamin betina.Sementara itu, kota-kota lain di Jawa Timur yang dilalui sungai Brantas seperti Kediri, Kertosono, Jombang, Mojokerto, Gresik dan Sidoarjo, dari 410 ekor ikan yang diperoleh , ternyata 337 ekor (82 %) berjenis kelamin betina. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa mayoritas ikan di sungai Brantas berjenis kelamin betina ? Pertanyaan berikutnya adalah pelajaran apakah yang dapat di petik dari kejadian di atas ?

2. Zat Estrogenik

Menurut Profesor Win Darmanto,M.Si., Ph.D., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Surabaya pada jenis vertebrata ( hewan bertulang belakang ), termasuk ikan pada awal embrio secara alami berkembang ke jenis kelamin betina. Individu tersebut akan berubah menjadi jantan jika ada hormon testosteron. Namun dalam perkembangannya bila lingkungannya banyak mengandung zat estrogenik ( zat yang kandungannya mirip hormon kelamin betina), individu ini akan berjenis kelamin betina walaupun kromosomnya jantan. Peristiwa seperti inilah yang disebut Perubahan Jenis Kelamin Suatu Individu ( Sex Reversal ). Zat estrogenik ini bisa alami maupun buatan, yang alami misalnya limbah pertanian, berupa sisa-sisa tanaman, kotoran hewan / manusia dan urin hewan / manusia. Sedang estrogenik buatan, misalnya limbah sisa pupuk ,limbah rumah tangga berupa sabun dan detergen.

3. Indikator Pencemaran

Munculnya fenomena perubahan jenis kelamin (sex reversal) pada ikan ini merupakan salah satu adanya indikator pencemaran sungai Brantas beserta anak sungainya.Sebagai bukti, beberapa jenis ikan di bawah ini pada tahun 2009 masih ada, namun saat penelitian ini dilakukan (2011) sudah tidak ditemukan lagi, misalnya ikan Arengan (Murcillus zhysosphakadion), ikan Bloso atau Betutu (Oxyeleotris marmorata), ikan Palung alias Hampala (Hampala macrolepidota), dan ikan Jambal (Pangasius suchi). Selain itu, hasil penelitian tim dari Universitas Brawijaya Malang yang dilakukan pada tahun 1997 mendapatkan jenis ikan sebanyak 50 spesies sedang hasil penelitian dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan basah (Ecoton) saat ini (2011) menghasilkan jenis ikan hanya 30 spesies, berarti selama kurun waktu 14 tahun, keanekaragaman jenis ikan di sungai Brantas telah berkurang sebanyak 20 spesies (40 %).

4. Teknik Jantan Mandul

Lalu timbul pertanyaan, apa hubungan antara keseimbangan jenis kelamin dengan kelestarian suatu makhluk hidup ? Dalam bidang Pertanian , kita kenal istilah sistem pemberantasan hama secara Teknik Jantan Mandul (steril), yaitu dengan cara mengambil beberapa contoh hama jantan lalu diradiasi di laboratorium hasilnya hama jantan tersebut memang masih hidup, namun setelah dikembalikan ke habitat aslinya dan kawin dengan hama betina maka hama tersebut tidak mempunyai keturunan.Bila hal ini berlangsung dari generasi ke generasi maka akhirnya akan punah.Sebagai gambaran adalah penelitian yang dilakukan oleh Siti Nurhayati dari Batan ( Badan Tenaga Atom Nasional) di Bandung. Menggunakan sample hama sebanyak 1.000.000 ekor kemudian beberapa hama jantan di radiasi, pada F – 1 ( generasi I ) tinggal 26.316 ekor, pada F – 2 (generasi II) tinggal 1.907 ekor, pada F – 3 (generasi III) tinggal 10 ekor dan pada F – 4 (generasi IV) akhirnya nol / habis (www.batan.go.id, 30 Oktober 2011).Bila Teknik Jantan Mandul ini pada F-4 (generasi IV) mengalami kepunahan (habis), maka tidak menutup kemungkinan ikan-ikan yang di sungai Brantas juga akan mengalami nasib serupa. Bagaimana menurut anda ?

Kamis, 17 November 2011

SOAL - SOAL SISTEM KOORDINASI



Oleh : Mahfud

Guru SMP YPPI – 2 Surabaya

I.SISTEM SARAF

1. Tuliskan 3 fungsi saraf manusia yang berhubungan dengan sistem koordinasi !

2. Jelaskan 3 bagian sel saraf beserta fungsinya masing – masing !

3. Gambarkan sel saraf manusia beserta bagian – bagiannya masing – masing !

4. Tuliskan macam sel saraf manusia beserta fungsinya masing – masing !

5. Apa yang dimaksud dengan sinapsis dan apa pula nama zat kimia yang

membantu terjadinya Sinapsis ?

6. Jelaskan fungsi Asetilkolin dan Kolinesterase dalam proses sinapsis !

7. Sebutkan fungsi Otak Besar (Serebrum) sebagai saraf pusat manusia !

8. Sebutkan pula fungsi Otak Kecil (Serebellum) bagi sistem koordinasi manusia !

9. Jelaskan macam – macam fungsi dari Sumsum Lanjutan (Medula Oblongata) !

10. Jelaskan pula fungsi Sumsum Tulang Belakang (Medula Spinalis) !

11. Sebutkan fungsi dari Saraf Tepi dari Sistem Koordinasi manusia !

12. Jelaskan fungsi saraf somatis pada Sistem Koordinasi manusia !

13. Tuliskan 3 perbedaan antara sistem saraf simpatik dengan saraf

parasimpatik !

14. Tuliskan urutan jalannya impuls pada gerak biasa !

15. Tuliskan pula urutan jalannya impuls pada gerak refleks !


@@@ GOOD LUCK @@@


II. SISTEM INDERA

1. Tuliskan arti indera manusia beserta dengan fungsinya !

2. Sebukan 5 macam indera manusia dan masing –masing peka terhadap apa ?

3. Tuliskan 3 lapisan bola mata manusia dan sebutkan masing – masing bagian

depannya dinamakan apa ?

4. Tuliskan 2 reseptor (penerima stimulus) mata dan sebutkan masing – masing

fungsinya !

5. Tuliskan pula 2 cairan humor pada mata dan sebutkan masing – masing

letaknya !

6. Tuliskan urutan jalannya impuls pada proses melihat suatu benda !

7. Sebutkan 3 perbedaan antara mata manusia dengan kamera !

8. Jelaskan 5 macam kelainan mata dan bagaimana cara mengatasinya ?

9. Sebutkan 3 bagian dari telinga luar manusia !

10. Apa nama – nama tulang pendengaran manusia !

11. Apa nama bagian telinga yang merupakan penghubung antara telinga tengah

dengan rongga mulut ?

12. Tuliskan urutan jalannya impuls pada proses mendengar suatu suara !

13. Dalam bentuk apakah suatu zat agar mudah untuk dibau ?

14. Sebutkan bagian – bagian dari sel pencium hidung !

15. Tuliskan 5 fungsi lidah manusia !

16. Jelaskan letak kuncup pengecap lidah disertai dengan gambarnya !

17. Sebutkan nama lapisan kulit yang berfungsi sebagai tempat pembentukan

pigmen (warna kulit) !

18. Apa fungsi dari lapisan kulit Stratum Germinativum ?

19. Sebutkan nama indera kulit yang berfungsi untuk tekanan !

20. Apa fungsi indera kulit Badan Krause ?


@@@ GOOD LUCK @@@

Rabu, 14 September 2011

EKOWISATA WONOREJO SURABAYA





Oleh : Mahfud

Guru Biologi YPPI Surabaya

1. Rasional

Bagi anda yang berasal dari luar kota Surabaya, biasanya tempat wisata yang dituju adalah jembatan Suramadu, Kebun Binatang Surabaya (KBS), Monumen Kapal Selam (Monkasel), Planetarium, Museum Tugu Pahlawan, Pantai Ria Kenjeran dan masih banyak yang lain. Namun bila ke pusat-pusat perbelanjaan, ada Galaxi Mall, Tunjungan Plaza, Pakuwon Trade Centre (PTC), Plaza Surabaya, Royal Plaza, City of Tomorrow (CITO) dan sebagainya. Sementara itu, ada satu tempat wisata yang barangkali orang Surabaya sendiri jarang yang tahu, yaitu Ekowisata Wonorejo Surabaya.Tempat ini berada di pantai timur Surabaya. Tepatnya di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut Kota Surabaya. Untuk dapat kesana, rute yang dilalui mulai jembatan MERR-C atau Kampus STIKOM ke timur melalui sekolah IPH, Kantor Taxi ORENZ, Kantor Konstruksi Baja Kalimaya Steel lalu belok kanan melalui jalan makadam tepi sungai dan akhirnya sampai di Bozem Wonorejo lalu naik perahu dengan tarif Rp. 10.000,00 / orang, maka sampailah kita ke Ekowisata Wonorejo Surabaya.

2. Fauna

Menurut Ketua Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Ekowisata Wonorejo, Bapak Joko Soewondo, kawasan ini dihuni sebanyak 137 jenis burung. Dari jumlah tersebut sebanyak 23 jenis adalah burung migran dari Siberia ke Australia atau Selandia Baru sedang sisanya burung menetap. Sementara itu, spesies endemis (asli) Wonorejo, antara lain, Sikatan Bakau (Cyornis rufigastra), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Bubut Jawa (Centropus negrorufous), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton reticulates), Biawak / Nyambik (Varanus salvator), Percil Jawa (Microhyla acanthine), Ular Tambak (Cerberus rhynchops), Ikan Mujair (Areochromis tigrina), Ikan Sembilang (Euristhmus microceps), Kerang Hijau (Mytylus edulis ). Kemudian ada 2 spesies yang aneh, yaitu Kepiting (Scylla serrata) yang bercapit satu bukan karena patah tapi memang aslinya begitu dan yang satu lagi Ikan Glodok (Periopthal novemradiatus), yaitu ikan yang dapat memanjat akar pohon bakau dengan siripnya serta bentuk kepalanya menyerupai katak.

3. Flora

Sementara itu, jenis flora (vegetasi) yang ada di ekowisata Wonorejo, antara lain : Bakau (Rhizophora mucronata), Kayu Api (Avicennia alba), Pidada (Sonneratia caseolaris), Buta-buta (Excoecaria agallocha), Ketapang (Terminalia catapa), Nipah (Nypa fructicans), Waru laut (Hibiscus tilliaceus), Tanjang (Bruguiera gymnorrhiza), Nyamplung (Callophylum inophylum), Bintaro (Cerbera manghas), Akasia (Acacia auriculiformis), Asam (Tamarindus indica), Lamtoro / Petai Cina (Leucaena glauca), Gelagah (Saccharum spontaneum), dan Beringin (Ficus benyamina).

4. Penutup

Berdasarkan hasil pendataan awal di kawasan ekowisata Wonorejo Surabaya ini,maka kita mengetahui bahwa tempat ini sangat kaya akan keanekaragaman hayati baik flora maupun faunanya. Namun demikian, penulis yakin masih banyak spesies penghuni ekowisata Wonorejo ini yang belum terdata. Oleh karena itu perlu adanya penelitian dan kajian lebih lanjut. Bagaimana menurut anda ?

Minggu, 19 Juni 2011

BELAJAR DARI FENOMENA ULAT BULU

Oleh :Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Oooh ….oooh ….oooh. Begitu kata Ebiet G. Ade dalam lagu Berita Kepada Kawan.Syair lagu Ebiet G. Ade di atas sangat relevan dengan fenomena ulat bulu saat ini. Betapa tidak ? Sebanyak 9 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo, yaitu Kecamatan Leces ada 9 desa, Bantaran ada 7 desa, Tegal Siwalan ada 11 desa, Wonomerto ada 11 desa , Sumberasih ada 3 desa, Dringu ada 3 desa, Banyuanyar ada 3 desa, Tongas ada 1 desa, dan Kuripan ada 1 desa dalam 2 pekan ini dikejutkan adanya “serangan” ulat bulu yang menyerang tanaman di tepi-tepi jalan, pohon terutama jenis mangga (Mangifera indica L.)di pekarangan,dinding-dinding rumah dan bahkan adapula yang di ruang kelas, seperti SDN IV Leces, Probolinggo ( Jawa Pos, 2 April 2011 ). Tidak sampai seminggu kota-kota lain juga mendapat serangan serupa seperti Pasuruan, Banyuwangi, Jombang, Tulungagung, Sidoarjo, Mojokerto, Kendal dan bahkan sampai Buleleng, Bali.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah ada apa tiba-tiba muncul ulat bulu yang menghebohkan saat ini ? Tulisan ini akan membahas ulat bulu dari sisi ekologis dan pembelajaran karakter di sekolah.

Hikmah Ulat Bulu

Dengan munculnya ulat bulu yang mempunyai nama ilmiah Lymantria marginata ini ada beberapa hikmah yang dapat kita petik sebagai bahan kajian kita bersama, antara lain : 1. Ada yang salah selama ini dalam menangani alam. Kalau kita cermati munculnya hewan yang termasuk ordo ( bangsa ) Lepidoptera ( serangga bersayap sisik ) ini adalah terputusnya rantai makanan ( food chain ) dan jaring-jaring makanan ( food web ). Secara alami, bila ulat bulu makan daun mangga, maka ulat bulu sebagai konsumen I harus ada yang memangsa sebagai konsumen II. Sayangnya saat ini yang bertindak sebagai konsumen II yang menjadi predator ulat bulu jarang ditemukan kalau tidak mau dikatakan langka, seperti burung jalak Jawa(Acridotheres javanicus ), burung kutilang (Pignonotus aurigaster ), burung ciblek (Trinia familiaris), kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan masih banyak lagi. Akibat terputusnya rantai makanan ini inilah maka ulat bulu membludak dan akhirnya mengganggu aktivitas manusia itu sendiri. 2. Pembelajaran Karakter di sekolah. Dengan semakin gencarnya pemberitaan tentang ulat bulu ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran karakter di sekolah sebab dalam siklus hidupnya makhluk yang sedang naik daun dan suka makan daun mangga ini mengalami metamorfosis sempurna, dimulai dari telur beberapa hari lalu larva (ulat) antara 2 – 3 minggu, pupa (kepompong) sekitar 2 minggu dan fase terakhir imago (dewasa/ kupu-kupu) selama sekitar 1 bulan.Pada saat fase larva (ulat) inilah karakter ulat sangat rakus, makan terus tidak peduli milik siapa, merusak (destruktif), penampilannya menjijikkan dan bila tersentuh kulit terasa gatal dan panas.Akibat karakter yang demikian ini hampir semua makhluk Tuhan menjauhi dan membencinya, termasuk manusia. Namun, ulat yang berkarakter demikian suatu saat ia insyaf dan bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi (taubatan nashuha). Sebagai konsekuensinya, ia lalu berpuasa tidak makan, tidak minum, bahkan bergerakkan tidak, hanya berdo’a dan berdo’a semoga dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh Tuhan. Ternyata Tuhan mengabulkan do’a ulat yang telah bertaubat ini dan setelah 2 minggu muncullah kupu-kupu yang indah dan dapat terbang kesana kemari dan membantu penyerbukan tanaman budidaya manusia.Jika ulat dijauhi dan dibenci manusia, maka kupu-kupu justru dicari dan disenangi manusia.Dengan memberikan contoh pembelajaran karakter pada ulat bulu ini kepada siswa di sekolah, logikanya jika makhluk seperti ulat saja bisa bertaubat dan berubah menjadi kupu-kupu yang baik dan berguna, apalagi kita manusia makhluk Tuhan yang paling mulia. Bagaimana menurut anda ?

Senin, 04 April 2011

YPPI FESTIVAL AJANG KREATIVITAS SISWA




Oleh : Mahfud
Humas YPPI Festival
Dalam rangka memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa baik dibidang seni maupun akademik, maka sekolah YPPI mulai TK, SD, SMP dan SMA yang berlokasi di Jl.Dharmahusada Indah Barat VI / 1 Surabaya menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk : YPPI FESTIVAL. Kegiatan tersebut diadakan selama 2 hari, yaitu hari Jum’at – Sabtu, 17 – 18 Desember 2010. Adapun kegiatannya meliputi : Lomba Mewarna dan Fashion Show tingkat TK se – Suranaya, lomba Robotic, lomba Story Telling dan Mendongeng tingkat SD se – Surabaya, lomba Fashion Design dan Web Design tingkat SMP se – Surabaya. Selain itu juga ada bazaar, pameran hasil karya siswa, penampilan seni dan budaya. Bahkan pada hari Sabtu, 18 Desember 2010, YPPI Festival kedatangan “ Guest Stars “ Sharah ( Sharah Band ), John Paul Ivan ( Eks Boomerang ), Mr. Doddy ( Shine On Blues ). Ketika John Paul Ivan tampil bersama Mr. Doddy dan Mr. Alex ( Guru Seni Musik YPPI ) suasana panggung menjadi “gemuruh” dan para kuli tinta serta penonton yang semula duduk, tiba-tiba bangkit sambil mengabadikan momen yang amat langka tersebut. Pada saat itu juga, John Paul Ivan memberi kesempatan kepada siswa –siswi YPPI untuk bertanya tentang seluk beluk masalah gitar. Pada acara tersebut mulai dari TK, SMP dan SMA YPPI mengisi acara seni dan budaya selama 2 hari tersebut, bahkan Universitas Widya Kartikapun juga menampilkan 2 tarian.Acara YPPI Festival ini juga didukung oleh : Yudhistira, Yong Ma, Djatimas, Melodia, AUTO 2000 Basuki Rachmad, Ceremix, Good Day, dan Faber Castell.

Jumat, 16 Juli 2010

GEMA KONFERENSI INTERNASIONAL TENTANG LINGKUNGAN HIDUP 2010


Oleh : MAHFUD

Salah satu peserta CEI 2010 dari YPPI

1. Rasional

Sebagai negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbanyak ke-2 setelah Brasil,Indonesia mempunyai peranan sangat penting dalam menangani issu pemanasan global ( global warming ). Begitu pentingnya keanekaragaman hayati ini, sampai-sampai PBB telah menetapkan bahwa 2010 sebagai Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional. Disamping itu, karena keanekaragaman hayati ini berhubungan erat dengan budaya, maka tema konferensi kali ini adalah : Keanekaragaman Hayati dan Budaya ( Biodiversity and Culture ). Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan adat istiadat. Oleh sebab itu, saat ini Indonesia mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Tentang Lingkungan Hidup ke – 24 ( The 24th Caretakers of the Environment International Conference ) yang diselenggarakan mulai tanggal 4 – 10 Juli 2010 Bertempat di UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati Jl. Argotunggal 1 Lawang – Malang, Jawa Timur. Konferensi ini khusus untuk pendidik, guru dan siswa SMP / SMA atau yang sederajat. Tujuan konferensi ini adalah menggali hubungan antara keanekaragaman hayati dengan budaya masyarakat setempat (local wisdom).

2. Peserta

Jumlah seluruh peserta konferensi sebanyak 220 orang yang berasal dari 18 negara, yaitu :Denmark, Greece (Yunani), Hongkong (China), Hungaria, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Netherland (Belanda), Pakistan, Polandia, Portugal, Rusia, Inggris, Swedia, Turki, Amerika Serikat, dan tuan rumah Indonesia. Sementara itu, peserta yang berasal dari Indonesia berasal dari 11 daerah, yaitu : Papua ( Jayapura dan Raja Ampat ), Kendari, Bali, Jakarta, Tangerang, Bandung, Bogor, Madura (Sumenep), Malang, Pasuruan dan Surabaya. Sedang peserta yang berasal dari Surabaya sebanyak 5 sekolah, yaitu : Sekolah YPPI, Sekolah Ciputra, Sekolah Cita Hati, SMAK St. Louis 1, dan SMAK St. Hendrikus. Peserta yang berasal dari YPPI sebanyak 6 orang, terdiri dari 4 siswa dan 2 orang guru. Ke empat siswa tersebut adalah Evelyn Marsarin dan Patricia Elias ( SMA YPPI – 1 ), Yusak Noven ( SMA YPPI – 2 ), serta Novi Carolina ( SMP YPPI – 1 ). Sedang 2 guru adalah Setijaning Utami, SE (SMA YPPI – 2 ) dan penulis sendiri ( SMP YPPI – 2 ).

3. Project

Setiap sekolah atau lembaga yang menjadi peserta konferensi wajib menampilkan minimal 1 project. Project tersebut ditampilkan dalam 2 bentuk, yaitu dalam bentuk dipresentasikan oleh siswa dan yang kedua dalam bentuk dipamerkan dalam papan project yang ditempel pada kertas manila atau sudah dibuat dalam bentuk banner. Boleh juga hasil karya siswa seperti tas dari hasil daur ulang bungkus makanan ringan (snack), T-Shirt yang disablon dengan slogan-slogan peringatan tentang pentingnya kelestarian alam atau hasil karya siswa berupa minuman herbal berupa ekstrak jahe, kencur dan kunyit yang dibagi-bagi kepada setiap pengunjung seperti yang dilakukan oleh peserta dari sekolah YPPI. Sementara itu, dari seluruh peserta yang ada terdapat 46 project, yang terbagi menjadi 5 lokasi presentasi dan dipandu 2 moderator dari negara yang berbeda. Setiap judul project yang membahas topik sama digabung dan masing-masing diberi waktu 15 menit untuk presentasi. Misalnya sekolah YPPI mempunyai 2 project, yang satu berjudul : “My Future Garden” karena topiknya sama dengan sekolah Kirov Rusia yang berjudul : “Parks of Our Town”, maka presentasinya bersama-sama dengan sekolah Kirov Rusia. Demikian pula project kedua dari sekolah YPPI yang berjudul : “My Spring Water” karena topiknya senada dengan delegasi dari Papua yang berjudul : “Danau Sentani”, maka presentasinya juga tampil bersama.

4. Field Trip

Pada hari ke 3 dan ke 4, Selasa dan Rabu, 6 – 7 Juli 2010, setiap peserta diminta untuk memilih salah satu dari 5 macam tipe ekosistem sebagai tujuan field Trip (di YPPI semacam Study Ekskursi). Kelima ekosistem tersebut adalah : 1. Ekosistem Hutan Hujan Tropis di Cangar 2. Ekosistem Vulkanik di gunung Bromo, 3. Ekosistem Hutan Bakau di Probolinggo, 4. Ekosistem Dataran Tinggi di Trawas, dan 5. Ekosistem Sawah di Tumpang. Peserta dari YPPI terbagi menjadi 2 kelompok, sebagian ikut ke ekosistem Hutan Hujan Tropis di Cangar dan sebagian ikut ekosistem Vulkanik di gunung Bromo. Penulis sendiri ikut ke ekosistem Hutan Hujan Tropis di Cangar. Sebelum peserta menuju ke Cangar, terlebih dahulu diterima Wali kota Batu untuk mempromosikan kota Batu kepada peserta yang memang mayoritas berasal dari manca negara. Setelah itu peserta menuju ke Hutan Hujan Tropis di Cangar. Di dalam hutan yang masih alami ini peserta dapat mempelajari berbagai macam keanekaragaman hayati, seperti macam-macam tumbuhan paku yang menempel pada pohon, anggrek, lumut, lumut kerak (Lichenes), rotan, pandan, berbagai jenis pohon,serta berbagai hewan, seperti kera, kupu-kupu, siput, serta bermacam-macam jenis burung. Bahkan menurut hasil penelitian dari P – WEC (Petungsewu Wildlife Education Center, 2010 : 7 ), menyebutkan bahwa jenis-jenis burung yang ada di hutan Cangar tercatat sebanyak 86 spesies, termasuk Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Begitu asyiknya para peserta menyusuri jalan setapak di hutan Cangar, bahkan makan siang dan berfoto bersama juga di hutan.

5. Local Wisdom

Disetiap acara field trip, selalu ada acara mengunjungi ke desa, seperti yang penulis alami berkunjung ke desa Sumberbendo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, , kira-kira 1 km dari tempat penulis menginap di P – WEC, para peserta disuguhi dengan kesenian tradisional, misalnya lagu dolanan dari anak-anak yang memakai mahkota dari berbagai daun, kesenian jaranan, pencak silat, sedekah bumi dan masih banyak lagi. Sepintas lalu memang tidak ada hubungan antara kesenian tradisional dengan keanekaragaman hayati, namun bila kita kaji lebih jauh ternyata terdapat korelasi (hubungan) diantara keduanya. Misalnya lagu-lagu dolanan sambil memakai mahkota dari macam-macam daun, berarti masyarakat tersebut harus menanam pohon yang menghasilkan daun untuk membuat bahan mahkota. Kesenian Jaranan menggunakan jaranan yang terbuat dari bambu dan bulunya dari ijuk serta cambuk (cemeti) dari rotan, berarti masyarakat tersebut harus menanam bambu, siwalan dan rotan agar kesenian jaranan dapat hidup terus. Pada kesenian Pencak Silat, salah satu adegannya punggung dipukul batang salak yang penuh duri tidak berdarah (kebal), berarti masyarakat disitu harus menanam salak. Demikian pula acara sedekah bumi yang menggelar selamatan di sumber air (punden). Menurut Suryo W. Prawiroatmodjo (2010 : 32), upacara selamatan Jawa yang lengkap, meliputi : Nasi yang paling utama dalam bentuk tumpeng (gunungan), padi yang masih dalam untaiannya, gabah, beras, nasi dalam takir, bubur, karak / rengginang, kelapa, pala pendem, seperti : singkong, ubi jalar, bentul, ganyong, garut dan lain-lain, pala kesimpar, seperti : semangka, labu, blewah dan sebagainya, pala gumandul, seperti : jambu, jeruk, mangga, rambutan dan masih banyak lagi, macam-macam sayuran, empon-empon, seperti : jahe, kunyit, kencur, temulawak dan sebagainya, bunga tiga warna (kembang setaman), air bersih (toya Amerta) dalam kendi dan padupan (perapen). Dengan masih tetap mempertahankan kearifan lokal (local wisdom), seperti kesenian lagu dolanan, jaranan, pencak silat, sedekah bumi, maka mau tidak mau masyarakat setempat akan tetap menanam tanaman yang dibutuhkan agar kesenian tradisionalnya tidak punah. Dengan demikian maka keanekaragaman hayati akan tetap terjaga.

6. Harapan

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti CEI 2010, maka untuk CEI 2011 yang akan diselenggarakan di Hongaria, maka agar peserta dari YPPI mulai saat ini harus mempersiapkan diri mulai project yang akan dipresentasikan maupun project yang akan dipamerkan. Demikian pula kesenian yang akan ditampilkan bisa mewakili bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Surabaya khususnya, termasuk pakaian pendukungnya dan faktor bahasa tentunya. Sebab pada hari Jum’at, 9 Juli 2010 pada sesi Kesimpulan dan Rekomendasi (Conclusion and Recommendations), salah satu peserta dari YPPI, yaitu Evelyn Marsarin terpilih secara aklamasi untuk mewakili berbagai negara untuk presentasi tentang Ekosistem Hutan Hujan Tropis. Ini tentu prestasi yang luar biasa mengingat sekolah YPPI baru pertama kali mengikuti CEI ini. Dengan demikian YPPI ke depan dapat lebih berkiprah ke tingkat global. Semoga.